Minggu, Januari 26, 2014

Telaga di Batas Kala

Tabuh genderang di atas telaga, bangau-bangau senja meliukan lelah dan membenamkan kepala mereka. Langit menyisirkan pandangan, membentangkan janji yang belum sempat berlalu.

Suara senja menggelayutkan secercah cahaya di antara rerimbunan, hulu balang telaga dengan gegap gempita bergegas mempersiapkan syahdu kidung sang malam. Melihat latar gita di atap langit, apakah rembulan ataukah hujan yang akan jadi pengiring orkes jiwa.

Pembawa pesan pesan telah, dalam nawala yang menggulung dan berhembus pelan di permukaannya.

Whitford Pond - Early Morning

Maka dimulailah tarian dan nyanyian yang telah terlalu sering terlalu sering tergilas atas nama perubahan zaman.

Jumat, Desember 06, 2013

Kidung Malikat di Ketinggian



Karena aku mendengar ada manusia yang kini bersayap, maka jarak bumi dan langit merapat. Karena aku melihat ada manusia yang mencoba bersayap, maka bumi memanggil langit untuk merapat.

Menapak di bumi, berkharisma di langit, manusia hanya satu dan sayapnya hanya satu pasang.

Aku satu langkah, engkau satu langkah, dan langit memberi dua kepakan.

Aku tiba, engkaupun tiba, dan kita tiba di kidung para malaikat di ketinggian.

Kamis, November 28, 2013

Telah Tiba

Aku telah tiba di mana mentara berhenti untuk menanti. Aku telah tiba di mana kesaksian menjadi tuah sang waktu.

Ketika yang terbenam dibangunkan, maka laut akan beriak pelan dan menyampaikan pesannya ke tepian semesta.

Kamis, Juli 04, 2013

Detik Terpilin Rindu

Mentari masih jauh dari rangkulan senja, langit hanyalah noktah-noktah yang sebagian ruangnya kosong oleh parut awan dan gemulainya aroma ilalang yang menyambanginya. Apakah aku? Siapakah aku?

Buritan waktuku berdecit, pertanda engkau telah memijakkan makna dari sebuah senyum yang sangat pertama. Dan ketika hening kembali tiba, tinggalah detik terpilin rindu, semakna aku yang mengenangmu.

Sabtu, Juni 15, 2013

Bagi Pensajak Negeri

Tintaku dari langit
Lembarku dari bumi
Maka jemariku pun menari
Pertanda hati telah mengerti

Ada suluh abadi
Bagai benderang bersinggung mentari
Ada kalbu menyanyi
Menutur sejuknya budi pekerti

Wahai pensajak negeri
Bangkitlah kalian berdiri
Karena panggilan t'lah tiba dari pertiwi
Jangan biarkan jiwa persada mati

Wahai pensajak negeri
Jangan gentar oleh getir dan ngeri
Goreskan kalbumu dengan tinggi
Di antara kepakan Garuda sakti

Wahai pensajak negeri
Gelegarkan seluruh nyanyi-nyanyi
Jadikan jiwamu panji-panji
Bukti bakti pada pertiwi suci

Bagimu pensajak negeri
Cakrawala terbentang sunyi
Isikanlah dengan citra nurani sejati
Jangan biarkan zaman terlelap mimpi