Rabu, November 23, 2011

Terjalin

Sepasang pelangi yang terjalin oleh angin senja, dan yang kuucapkan padamu adalah keheningan di antaranya.

Engkau adalah warna dan akulah sapuannya, kehidupan pun jadi wahana selaksa rasa dan cita. Apa makna sekeping hati di ujung penantian, jika dunia adalah kau dan aku jua.

Aku menjadi waktu yang terlipat seribu, dan setunggal katamu menjadi ruang di mana semestaku berhenti berputar, menjelma pendar dalam sanubari yang berhenti melanglang.

Aku di sini, bersandar di depan pintumu, membungkuk mengucap salam pada senja yang mengedip mesra. Berlabuh pelukmu dengan kecup nirrasa, bak kehampaan yang memenuhi jagat nan berseru bahwa inilah awal sebuah kehidupan.

Rabu, September 28, 2011

Langgam Sukma

Aku datang di antara jiwa-jiwa yang hilang, menyamun lamun menguak duka. Laksana angin terakhir yang melesat di penghujung celah-celah kemarau, menjelma gerimis tertatih-tatih.

Aku kumpulan jiwa terpetik di kuncup-kuncup anyelir pagi. Laksana secercah cerah yang menggulung seruakan pertama pada kebenaran semesta.

Langkahku langgamku, jiwaku sukmaku, mengalir pelan ke bentangan tak bernama.

Kamis, Agustus 04, 2011

Menyepi Sejenak

Kusandarkan hening di labuhanmu wahai sang waktu, seperti temaram cahaya yang menggiring sadar ke lepas samudra, dan biarkan jiwaku meluluh dalam kalbumu.

Napasku lelah, bahkan tak sejengkal udara pun meninggalkan relung sesakku. Bak terhimpit dalam celah mega kanta, setetes hujan pun kan menenggelamkanku.

Akulah lelah yang merindu sunyi, letih yang menanti sepi. Seandainya napasku bukan jiwaku, telah lama kutanggalkan ia berserta nama-nama yang bersorak membahana.

Akulah awan yang menggulung pelan, menggeliat bosan di antara deru zaman. Seandainya cinta bukan sesuatu yang nyata, telah lama bidukku berlayar tanpa warna dan hanya berhias samudra.

Ah, kisah-kisah itu kini hanya sunyi di antara sepi. Letih telah menahan langkahku, dan kini kubiarkan sepi menemani, meski hanya sejenak, sebelum letih meminta jua napas tua ini.

Selasa, Juli 05, 2011

Kalbuku di Malammu

Aku terduduk lunglai laksana belulang tertekuk angin. Malam dan awan menyirnakan angan dan rembulan. Aku menengadah sejuta tanya, menelungkup sejuta jeda, dan napasku turut terbawa angin menekuk belulang.

Bentangan padang rumput meliarkan sang gulita, tersayup buaian jejak langkah sang pembawa pelita. Aku! Kumpulan jiwa dan kalbuku! Aku! Titipan waktu menggenang pilu!

Bintang-bintang memendar nyanyian syahdu, memanduku, merangkulku, dan kalbu yang terpikul malu-malu di antara hamparan senyummu.

Duhai pembawa pelita, engkau pemetik gempita suka cita.

Tuntunku di malammu.

Sabtu, Juli 02, 2011

Memercik Cinta di Tanah Tua

Seakan bergulung bersama cahaya senja, pucuk-pucuk dedaunan menarik diri dari kesahajaan alam. Waktu membisikku, kisah tua di atas tanah yang termakan usia.

Riak debu menjejak angin yang membawa mereka naik di antara lelingkup perdu, laksana butiran mimpi yang hendak menggapai mentari.

Bumi tertahan dalam kepakan penuh misteri. Dan hendak kutanya, di antara rerumputan yang telah lama menguning, telah purnakah jiwa mereka, ke tanah lain yang tiada kembali.

Jika ada asa bertahta cahaya, mengapa ia terpenjara sunyi. Jika ada langkah melarung duka, mengapa hanya terhampar gersang, seluruh kaki langit.

Jawabnya ada di celah langit, kala memercik cinta di tanah tua.

Kamis, Juni 30, 2011

Mendekap Senja

Pun ada selaksa perhentian kala, terseret di antara remah-remah kelabu nan lembayung. Ada desir suara di antara mega, di antara retakan remang-remang hati manusia.

Adakah aku bilah-bilah bambu yang tertiup senja tertelan kala? Adakah aku rerumputan yang pucuk-pucuknya telah lelah melambai-lambai pada surya yang perlahan terbenam?

Bisikkan suara yang mengepakkan sayap sang gagak, kembali mendekap senja.

Selasa, Juni 14, 2011

Aku, Mentari dan Pagi

Engkau yang menyeruak di tepian jendela pagiku, merambat pelan di selusur dan pepucuk hijau.

Menepuk pelan angin dan embun, selembut engkau menepuk pelupuk mata ini dengan jingga yang memesona.

Akulah jiwa yang betebaran dalam serakan liar yang terbangun dari mimpi-mimpinya. Akulah mentari dan akulah pagi.

Minggu, April 10, 2011

Secangkir Mimpi Seteguk Asa

Aku memejam mata di antara nyanyian burung pagi, kesejukan dengan ramah mengetuk pintu yang masih terselimut lelap.

Aku enggan membuka mata, namun kidung alam telah mengangkat secangkir mimpiku, dan membuatku menikmati seteguk asa yang penuh gairah. Mereka yang tak lelah, melukis pagiku dengan indah, sehingga ini hari kudapat kembali melangkah.

Jumat, Maret 18, 2011

Menjerat Mimpi Mendulang Asa

Ini kisah sebelum insan terlelap candu dunia. Berbagi cahaya meruntuh gulita. Ada debaran dalam setiap hembusan hangat yang menerpa celah-celah pengaharapan, di mana kisah kebijaksanaan tua telah lama terjerat.

Sayap-sayap kecil turun dari surga, dengan bulu selembut cinta dan membalut sehangat kasih. Mereka tersenyum gurau, menyisih gundah di belantara lampau.

Inilah kidung-kidung yang tak tertahan jelata. Kentara di antara ufuk yang meruam pagi menjadi bulir-bulir cahaya. Karena kita insan biasa-Nya yang hendak bersayap dan berkecak wibawa.

Namun, tak ada kolong langit yang terlalu tinggi, bagi mereka yang berkidung jenaka. Karena bahagia adalah sayapnya yang tak terhingga. Andaipun langit tak terjangkau, masih ada bahagia tersulam mesra dalam senyumnya.

Karena ia hanyalah insan biasa, yang mendulang mimpi menjerat asa.

Kamis, Maret 10, 2011

Dongeng Separuh Rembulan

Aku teringat suaramu yang memerdukan kisah-kisah lama tentang moyang dan mereka yang telah hilang dari terkenang. Ada selaksa kebajikan yang tertuang jadi telaga indah dengan percikan gita-gita menghangatkan kalbu.

Dongengmu menjadi gemerisik yang membangkitkan awas, serta menghunus ujung kegundahan pada mereka yang mengingkari kebajikan dan labuhan hatinya sendiri.

Kebenaran tersembunyi dalam sunyi, dan mereka telah membelah rembulan yang jadi pelita bagi jiwa-jiwa penggeliat derita.

Kini, hanya tertinggal sejengkal napas yang tertitipkan di antara celah-celah langit - tempat engkau biasanya mendendang kisah-kisah kewiraan nan menggugah padaku.

Kini, seluruh gita hanyalah tetesan beku, tersibak embun di bawah separuh rembulan. Kehangatan menyulam asa yang pernah didendangkan, tertatih terseok lunglai.

Aku tak pandai memilin kisah dan menenun asa, pun jua tak cakap menghibah bahagia. Kan kusimpan bait-bait pelukanmu dalam sebulir kenangan di antara persimpangan zaman. Kuingin mendengar lagi dongeng separuh rembulanmu.

Karenanya, aku pun tak lama lagi, mengembangkan layar, melaju dendanganmu, sementara dunia memisah dan tak lagi serupa, aku akan datang lagi pada pangkauanmu. Dan itulah napas terakhirku, sebagaimana kisah-kisah itu berakhir seperti dulu dalam hembusan jiwamu kata selamat tinggal itu terucap.

Dan ini kan menjadi dongeng separuh rembulanku.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Rabu, Maret 09, 2011

Menanti Senja

Aku bukanlah munculan dalam bahtera senjamu, yang layar-layarnya telah lusuh terkayuh lelah dan peluh. Aku bukan pula mentari yang kau nantikan untuk terbenam bersama seluruh mimpi-mimpi, yang tercipta sebelum kehadiranku.

Aku bukan balutan ketakutan, bukan pula remahan ketidakberdayaan yang hendak menemanimu ketika dunia tak lagi benderang. Aku juga bukan mantra di atas karpet merah yang menunjukkan jalan keluar dari gulita menuju gemerlap dunia.

Aku hanyalah kesederhanaan senja yang tergubah jadi pelita, sebagaimana engkau yang jadi semilir di antara dua dunia. Maka ketika senja yang engkau nantikan berlalu, akan ada pelita senantiasa di dalam sanubarimu.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Sabtu, Februari 05, 2011

Rintik Betabur Mentari

Aku mendengar langkah kakimu di antara angin yang bergurau dengan dedaunan. Berbalut anyaman semilir yang membuatku rindu, dan merintik kalbuku.

Kau tahu kesedihan yang membasuh air mataku, dan rasa pedih yang menyemai kegundahanku. Kau tahu nurani yang tumbuh di antara perdu akan tetap mendendangkan pilu, pun demikian kau tetap membisu.

Aku mendengar degup jantungmu di antara sutera yang berhembus lembut di tepian mega. Menyala terang, meninggalkan gulita yang menghempaskan diri di antara karang.

Kau yang paling memahamiku, segala suka, cita dan jua gundahku. Karena aku hanya rintik yang betabur mentari di atas pangkuanmu.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Senin, Januari 31, 2011

Tiada Kata

Aku tak memiliki kata untuk dibagi, jadi berhentilah saling bercumbu dalam cemburu. Nafasku telah lama tak terkait dalam bait, sehingga rindunya telah menguap bersama kata terakhir yang hilang dalam waktu.

Aku tak memiliki kata untuk dirangkai, jadi berhentilah memburuku dengan pigura semu-mu. Mataku bukan lagi jendela di mana baris-baris dunia tampak berjajar dengan lugu, semua itu hanyalah mimpi dalam gita masa lalu.