Kamis, Maret 10, 2011

Dongeng Separuh Rembulan

Aku teringat suaramu yang memerdukan kisah-kisah lama tentang moyang dan mereka yang telah hilang dari terkenang. Ada selaksa kebajikan yang tertuang jadi telaga indah dengan percikan gita-gita menghangatkan kalbu.

Dongengmu menjadi gemerisik yang membangkitkan awas, serta menghunus ujung kegundahan pada mereka yang mengingkari kebajikan dan labuhan hatinya sendiri.

Kebenaran tersembunyi dalam sunyi, dan mereka telah membelah rembulan yang jadi pelita bagi jiwa-jiwa penggeliat derita.

Kini, hanya tertinggal sejengkal napas yang tertitipkan di antara celah-celah langit - tempat engkau biasanya mendendang kisah-kisah kewiraan nan menggugah padaku.

Kini, seluruh gita hanyalah tetesan beku, tersibak embun di bawah separuh rembulan. Kehangatan menyulam asa yang pernah didendangkan, tertatih terseok lunglai.

Aku tak pandai memilin kisah dan menenun asa, pun jua tak cakap menghibah bahagia. Kan kusimpan bait-bait pelukanmu dalam sebulir kenangan di antara persimpangan zaman. Kuingin mendengar lagi dongeng separuh rembulanmu.

Karenanya, aku pun tak lama lagi, mengembangkan layar, melaju dendanganmu, sementara dunia memisah dan tak lagi serupa, aku akan datang lagi pada pangkauanmu. Dan itulah napas terakhirku, sebagaimana kisah-kisah itu berakhir seperti dulu dalam hembusan jiwamu kata selamat tinggal itu terucap.

Dan ini kan menjadi dongeng separuh rembulanku.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Do not hestitate to leave any comment here