Selasa, Juli 05, 2011

Kalbuku di Malammu

Aku terduduk lunglai laksana belulang tertekuk angin. Malam dan awan menyirnakan angan dan rembulan. Aku menengadah sejuta tanya, menelungkup sejuta jeda, dan napasku turut terbawa angin menekuk belulang.

Bentangan padang rumput meliarkan sang gulita, tersayup buaian jejak langkah sang pembawa pelita. Aku! Kumpulan jiwa dan kalbuku! Aku! Titipan waktu menggenang pilu!

Bintang-bintang memendar nyanyian syahdu, memanduku, merangkulku, dan kalbu yang terpikul malu-malu di antara hamparan senyummu.

Duhai pembawa pelita, engkau pemetik gempita suka cita.

Tuntunku di malammu.

Sabtu, Juli 02, 2011

Memercik Cinta di Tanah Tua

Seakan bergulung bersama cahaya senja, pucuk-pucuk dedaunan menarik diri dari kesahajaan alam. Waktu membisikku, kisah tua di atas tanah yang termakan usia.

Riak debu menjejak angin yang membawa mereka naik di antara lelingkup perdu, laksana butiran mimpi yang hendak menggapai mentari.

Bumi tertahan dalam kepakan penuh misteri. Dan hendak kutanya, di antara rerumputan yang telah lama menguning, telah purnakah jiwa mereka, ke tanah lain yang tiada kembali.

Jika ada asa bertahta cahaya, mengapa ia terpenjara sunyi. Jika ada langkah melarung duka, mengapa hanya terhampar gersang, seluruh kaki langit.

Jawabnya ada di celah langit, kala memercik cinta di tanah tua.