Jumat, Desember 06, 2013

Kidung Malikat di Ketinggian



Karena aku mendengar ada manusia yang kini bersayap, maka jarak bumi dan langit merapat. Karena aku melihat ada manusia yang mencoba bersayap, maka bumi memanggil langit untuk merapat.

Menapak di bumi, berkharisma di langit, manusia hanya satu dan sayapnya hanya satu pasang.

Aku satu langkah, engkau satu langkah, dan langit memberi dua kepakan.

Aku tiba, engkaupun tiba, dan kita tiba di kidung para malaikat di ketinggian.

Kamis, November 28, 2013

Telah Tiba

Aku telah tiba di mana mentara berhenti untuk menanti. Aku telah tiba di mana kesaksian menjadi tuah sang waktu.

Ketika yang terbenam dibangunkan, maka laut akan beriak pelan dan menyampaikan pesannya ke tepian semesta.

Kamis, Juli 04, 2013

Detik Terpilin Rindu

Mentari masih jauh dari rangkulan senja, langit hanyalah noktah-noktah yang sebagian ruangnya kosong oleh parut awan dan gemulainya aroma ilalang yang menyambanginya. Apakah aku? Siapakah aku?

Buritan waktuku berdecit, pertanda engkau telah memijakkan makna dari sebuah senyum yang sangat pertama. Dan ketika hening kembali tiba, tinggalah detik terpilin rindu, semakna aku yang mengenangmu.

Sabtu, Juni 15, 2013

Bagi Pensajak Negeri

Tintaku dari langit
Lembarku dari bumi
Maka jemariku pun menari
Pertanda hati telah mengerti

Ada suluh abadi
Bagai benderang bersinggung mentari
Ada kalbu menyanyi
Menutur sejuknya budi pekerti

Wahai pensajak negeri
Bangkitlah kalian berdiri
Karena panggilan t'lah tiba dari pertiwi
Jangan biarkan jiwa persada mati

Wahai pensajak negeri
Jangan gentar oleh getir dan ngeri
Goreskan kalbumu dengan tinggi
Di antara kepakan Garuda sakti

Wahai pensajak negeri
Gelegarkan seluruh nyanyi-nyanyi
Jadikan jiwamu panji-panji
Bukti bakti pada pertiwi suci

Bagimu pensajak negeri
Cakrawala terbentang sunyi
Isikanlah dengan citra nurani sejati
Jangan biarkan zaman terlelap mimpi

Jumat, Januari 18, 2013

Dewa Tani

Melihat rerimbunan padi
Bersabdalah dewa tani
Jadi maka-lah jadi
Padi kuning gemuk berisi

Datanglah putra-putri negeri
Dengan panji bertuliskan bakti
Membawa serta semua teknologi
Melihat padi kuning gemuk berisi
Berteriaklah anak negeri
Kita lipatgandakan lagi!

Bibit-bibit unggul ditebari
Obat hama membuat semua mati
Panen cepat semakin dicari
Meski belut kehilangan panggung tari

Terhampar di seluruh negeri
Sawah jadi neraka bergerigi
Surga tergerogoti
Meninggalkan sepi ngeri

Dewa Tani termenung sendiri
Tak ada senandung malam lagi
Semua penghuni alam telah pergi
Tergerus oleh teknologi anak negeri

Kamis, Januari 17, 2013

Berbayang Garuda

Sayap-sayapmu berhamburan diterpa mentari, kepakanmu terbantahkan oleh guliran roda zaman. Sejarahmu hanyalah lagu di tanah kekeringan.

Engkau, balada yang telah lama hilang di negeriku. Engkau, kini hanyalah simbol yang tergantung di atas ketimpangtindihan kesedihan dan kesengsaraan.

Seandainya masih ada nurani, mungkin telah kau sulamkan pada dada mereka semua. Sehingga terbuka mata dan rasa, betapa sakitnya saat itu terobek nyata.

Jika pun kini hanya bayangan hantu, ada mimpi dari masa lalu yang terus melaju. Dan seperti katamu, negeri ini tak akan selamanya semu.